Senin, 05 Mei 2014

penggunaan majas yang penuh dengan nilai sastra pada ayat Alqur'an yang penuh dengan makna

"Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu (Muhammad). Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat” – (QS. Ali Imron (3):7). Dalam sebuah buku terjemahan Al-Qur’an yang disusun secara tematik oleh Ust. Mahmud Asy-Syafrowi, kata muhkamat pada ayat di atas, diberi arti; ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya. Sedangkan kata mutasyabihat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian. Ayat tertsebut sekaligus menjadi dalil, bahwa keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an dapat digolongkan menjadi dua, yakni golongan ayat-ayat muhkamat dan golongan ayat-ayat mutasyabihat. Berdasarkan pengertian tersebut, tentu mudah Anda mengenali golongan ayat-ayat muhkamat sekaligus membedakannya dengan golongan ayat-ayat mutasyabihat.
Mengingat ayat-ayat muhkamat memiliki makna kata yang terang, jelas dan tegas,maka setiap kata diartikan secara leksikal, yakni sesuai makna kata dasar yang sebenarnya sehingga memiliki makna tunggal alias tidak bermakna ganda ataupun makna konotasi. Ayat-ayat muhkamat itu antara lain berisi perintah, anatara lain, seperti ayat berikut: Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqawa (QS. Al-Baqoroh (2):122) Isi ayat ini sudah amat jelas. Ada aspek kepastian, baik yang berkenaan dengan makna, dengan hukum (syari’ah) maupun kepastian tujuan (dari perintah). Karenanya, ayat ini terlihat bersih dari sisipan kata-kata tafsir. Membuktikan, kalau ayat ini tidak memberikan peluang sedikitpun bagi para teolog atau ahli tafsir untuk melakukan upaya pencarian makna kata atau makna kalimat yang berbeda dari makna (kata atau ayat) semula.
Berbeda dengan ayat-ayat mutasyabihat yang memiliki beberapa pengertian. Lahirnya beberapa pengertian pada ayat-ayat mutasyabihat disebabkan oleh konstruksi atau susunan kalimat dan penggunaan gaya bahasa majas. Secara etimologis, kata majas berasal dari kata arab; majaz yang terbentuk dari akar kata jawwaza (berarti: memotong) dan tajawwaza (berarti: melewati). Secara terminologis, majas bermakna melewati batas-batas makna leksikal atau bukan arti yang sebenarnya. Seorang teolog, Ibn Qutaibah (w. 276 H.) dalam Ta’wil Musykil al-Qur’an, mendefinisikan “majas sebagai bentuk gaya tutur, atau seni bertutur”. Tujuan penggunaan majas sebagai gaya bahasa tutur dan tulis adalah untuk menimbulkan efek psikologis tertentu, antara lain, berupa rasa seni. Efek psikologis ini tentu saja akan menimbulkan rasa senang, nikmat. takjub atau sebaliknya; terharu, sedih, cemas, gelisah dan sebagainya bagi pendengar atau pembaca. Pemilihan kata dan penggunaan gaya bahasa majas yang tepat untuk setiap ayat mutasyabihat sepertinya telah dirancang oleh Alloh Swt berdasarkan peristiwa, konteks, kondisi masyarakat atau pertimbangan lainnya. Keberadaan majas amat berperan untuk menjadikan cita-rasa bahasa Al-Qur’an indah. Keistimewaan Al-Qur’an dari aspek bahasa memang diakui oleh banyak teolog sebgai bagian dari kemukjizatan selaku wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Inilah yang mendorong Amin al-Khuli, salah seorang sastrawan besar Mesir, dalam Manahij Tajdid (1995) untuk mengatakan “Al-Qur’an adalah sebuah kitab sastra terbesar sepanjang masa. Al-Qur’an adalah buku seni (sastra) Arab yang suci, buku agung berbahasa Arab dan karya sastra yang tinggi”.
Lebih untuk kepentingan seni berbahasa, penggunaan majas (perumpamaan dan kata-kata kiasan) dalam Al-Qur’an juga memiliki tujuan yang tentu saja bermanfaat besar bagi syi’ar Islam. Diantaranya, adalah agar lebih mudah memahami isi setiap ayat Al-Qur’an. (“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat peljaran”. – QS. Az-Zumar : 29). Memahami isi ayat-ayat Al-Qur’an tentu dapat menambah keyakinan, keimanan sekaligus menjadi motivasi dan inspirasi bagi umat muslim untuk lebih giat beramal shaleh. Kesan ini tampak sangat kuat, misalnya pada ayat berikut: (“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”- QS. Al-Baqarah (2) : 25).
Ayat di atas menggunakan gaya bahasa majas alegori, sebuah gaya penyampaian maksud dengan cara lain dalam bentuk deskripsi atau penggambaran (perumpamaan) tentang suatu keadaan keindahan dan kenikmatan surgawi. Dikaitkan dengan konteks sosiografis(kondisi masyarakat dan alam) masyarakat Arab yang mendiami jazirah panas dan kering; wilayah yang banyak gunung-gunung batu, gurun pasir tanpa memiliki kebun (selain kebun kurma) ataupun hutan berikut sungai-sungai yang airnya mengalir. Sebuah kondisi yang melahirkan karakter sosial yang dikenal suka kawin (umumnya beristri dua sampai empat). Di sini, Al-Qur’an berupaya berinteraksi terhadap masyarakat Arab dengan cara mencoba menjembatani antara realitas sosiografis dengan sebuah imajinasi tentang keindahan dan kenikmatan surgawi (alam gaib). Penggambaran tentang keindahan surga lewat majas deskripsi pada ayat tersebut, diharapkan menjadi bahan reperensi yang meyakinkan. Jadi, imajinasi tentang kenikmatan surgawi itu disandarkan pada keindahan alam dan istri-istri yang cantik yang menjadi dambaan dalam hidupnya. Bahwa, dengan kondisi geografis Arab yang tidak ramah, maka pemilihan kata dan majas yang disajikan al-Qur’an pada ayat di atas, diharapkan bisa menambah keyakinan dan memotivasi mereka untuk beramal shaleh.
Dampak lain dari penggunaan gaya bahasa majas dalam ayat-ayat Al-Qur’an, juga tak urung menyediakan sebuah “ruang publik” bagi para teolog, kiyai atau para ulama dan muballigh untuk melakukan upaya (ijtihat) dalam menapsirkan ayat tertentu menurut interpretasi masing-masing. Seperti pada ayat berikut: ( “Isteri-isterimu adalah ladang (tempat bercocok tanam) untukmu, maka datangilah (garaplah) ladangmu bagaimana saja kamu kehendaki”. – QS. Al-Baqarah (2): 223). Juga ayat berikut: (“Istri-istri kamu adalah pakaian untuk kamu dan kamu (suami) adalah pakaian untuk mereka (istri)”. – QS. Al-Baqarah (2): 187). Kedua ayat ini menggunakan dua jenis gaya bahasa sekaligus, yakni majas eufimisme (penghalusan bahasa) dan majas “onoma; suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian makna yang sangat dekat” (Keraf, 2004:142).
Sedemikian halusnya bahasa ayat tersebut, sampai menimbulkan multitafsir dalam menjelaskan kandungan maksudnya. Ayat pertama, misalnya, acap diterjemahkan sebagai posisi superioritas(kekuasaan dan kejantanan ?) kaum laki-laki terhadap istri (ketika melakukan hubungan badan). Bahkan. ada muballigh yang kerap menguraikan ayat ini dengan kalimat nyeleneh, menjadikannya banyolan untuk mengundang tawa. Sebut saja KH Zainuddin MZ (almarhum). Muballigh berjuluk da’i sejuta umat ini, kerap menguraikannya begini: “Istri-istrimu adalah sawah-ladangmu, ente mau garap seperti apa ? Silakan ! Mau dicangkul dari depan… boleh ! Mau dari belakang… juga nggak ape! Ya, silakan saja…itu adalah sawah dan ladangmu sendiri kok… !” Apa efek yang dihasilkan ? Pendengar atau Jemaah pengajian dibuat tersenyum mesem atau boleh jadi tertawa ngakak. Bandingkan dengan M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, yang memberikankan penjelasan, begini: “Karena hubungan seks harus bersih, maka hubungan tersebut harus dimulai dan dalam suasana suci bersih; tidak boleh dilakukan dalam keadaan kotor; atau situasi kekotoran.” Penjelasan ini memperkuat kesan bahwa ketika Al-Qur’an berbicara tentang hal-hal sensitif (perempuan), maka bahasanya tidak vulgar melainkan selalu menggunakan pemilihan kata dan kalimat yang halus, sopan, dan etis. Penggunaan gaya bahasa majas, khususnya eufisme dan onoma yang selalu menyembunyikan maksud yang sebenarnya, memang berpotensi melahirkan perbedaan di kalangan mufassir dalam menafsirkan sebuah ayat Al-Qur’an. Namun, perbedaan itu tentu tidak keluar dari substansi (maksud sebenarnya) terhadap ayat yang ditafsirkan. Jadi, perbedaan tersebut mesti diletakkan dalam konteks ijtihat, yaitu upaya menempuh jalan berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.
Seni al-Qur’an tidak hanya pada aspek gaya penyampaiannya, tapi juga pada aspek lapaznya. Bahwa, dalam membaca setiap hurup al-Qur’an punya mahraj masing-masing yang dapat menentukan makna tersendiri pada masing-masing kata pada kalimat yang dibentuknya.

Poetry For My Mom

My Mom is My Hero

You Mom
you are my hero
you are is my guide
you are my light in the dark
always be water in the desert
alway be light in the middle night
your love is so much as the sea
your love is eternal
you mom
where you stand
place last steps
and a place to complain
I'm nothing without you mom
we all need you mom
we all love you mom

Senin, 15 Agustus 2011

Pantai dan Tebing Siung

Jogja / Obyek Wisata / Wisata Pantai / Pantai Siung

PANTAI SIUNG - Memiliki 250 Jalur Panjat Tebing

Siung
Album Foto (10 foto)
Pantai Siung kaya akan karang-karang raksasa. Tebing karangnya memiliki 250 jalur pemanjatan, juga tempat tepat untuk menikmati panorama pantai. Ada pula karang menyerupai siung wanara yang menjadi dasar penamaan pantai.


Pantai Siung, Memiliki 250 Jalur Panjat Tebing

Pantai Siung terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan kecamatan Tepus. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 2 jam perjalanan. Menjangkau pantai ini dengan sepeda motor atau mobil menjadi pilihan banyak orang, sebab memang sulit menemukan angkutan umum. Colt atau bis dari kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus, itupun mesti menunggu berjam-jam.
Stamina yang prima dan performa kendaraan yang baik adalah modal utama untuk bisa menjangkau pantai ini. Maklum, banyak tantangan yang mesti ditaklukkan, mulai dari tanjakan, tikungan tajam yang kadang disertai turunan hingga panas terik yang menerpa kulit saat melalui jalan yang dikelilingi perbukitan kapur dan ladang-ladang palawija. Semuanya menghadang sejak di Pathuk (kecamatan pertama di Gunung Kidul yang dijumpai) hingga pantainya.
Seolah tak ada pilihan untuk lari dari tantangan itu. Jalur Yogyakarta - Wonosari yang berlanjut ke Jalur Wonosari - Baron dan Baron - Tepus adalah jalur yang paling mudah diakses, jalan telah diaspal mulus dan sempurna. Jalur lain melalui Yogyakarta - Imogiri - Gunung Kidul memiliki tantangan yang lebih berat karena banyak jalan yang berlubang, sementara jalur Wonogiri - Gunung Kidul terlalu jauh bila ditempuh dari kota Yogyakarta.
Seperti sebuah ungkapan, "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian", begitulah kiranya perjalanan ke Pantai Siung. Kesenangan, kelegaan dan kedamaian baru bisa dirasakan ketika telah sampai di pantai. Birunya laut dan putihnya pasir yang terjaga kebersihannya akan mengobati raga yang lelah.Tersedia sejumlah rumah-rumah kayu di pantai, tempat untuk bersandar dan bercengkrama sambil menikmati indahnya pemandangan.
Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.
Batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa dinikmati keindahannya, berpadu dengan ombak besar yang kadang menerpanya, hingga celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis.
Karang gigi kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turut menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu. Menurut cerita Wastoyo, wilayah Siung pada masa para wali menjadi salah satu pusat perdagangan di wilayah Gunung Kidul. Tak jauh dari pantai, tepatnya di wilayah Winangun, berdiri sebuah pasar. Di tempat ini pula, berdiam Nyai Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Sebagian besar warga Siung saat itu berprofesi sebagai petani garam. Mereka mengandalkan air laut dan kekayaan garamnya sebagai sumber penghidupan. Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang saat itu menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya beragam jenis ikan, tak banyak warga yang berani melaut saat itu. Umumnya, mereka hanya mencari ikan di tepian.
Keadaan berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo, diboyong ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di Yogyakarta dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar wilayah Winganun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak banyak lagi orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang ditempuh penduduk setempat untuk bertahan hidup.
Di tengah masa sepi itulah, keindahan batu karang Pantai Siung kembali berperan. Sekitar tahun 1989, grup pecinta alam dari Jepang memanfaatkan tebing-tebing karang yang berada di sebelah barat pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada dekade 90-an, berlangsung kompetisi Asian Climbing Gathering yang kembali memanfaatkan tebing karang Pantai Siung sebagai arena perlombaan. Sejak itulah, popularitas Pantai Siung mulai pulih lagi.
Kini, sebanyak 250 jalur pemanjatan terdapat di Pantai Siung, memfasilitasi penggemar olah raga panjat tebing. Jalur itu kemungkinan masih bisa ditambah, melihat adanya aturan untuk dapat meneruskan jalur yang ada dengan seijin pembuat jalur sebelumnya. Banyak pihak telah memanfaatkan jalur pemanjatan di pantai ini, seperti sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah bersiap melakukan panjat tebing ketika YogYES mengunjungi pantai ini.
Fasilitas lain juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di ground camp ini, tenda-tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa digelar untuk melewatkan malam. Syarat menggunakannya hanya satu, tidak merusak lingkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam sebuah papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa digunakan bagi yang sekedar ingin bermalam.
Tak jauh dari ground camp, terdapat sebuah rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup besar, cukup untuk 10 - 15 orang. Bentuk rumah panggung membuat mata semakin leluasa menikmati keeksotikan pantai. Cukup dengan berbicara pada warga setempat, mungkin dengan disertai beberapa rupiah, base camp ini sudah bisa digunakan untuk bermalam.
Saat malam atau kala sepi pengunjung, sekelompok kera ekor panjang akan turun dari puncak tebing karang menuju pantai. Kera ekor panjang yang kini makin langka masih banyak dijumpai di pantai ini. Keberadaan kera ekor panjang ini mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa batu karang yang menjadi dasar penamaan dipadankan bentuknya dengan gigi kera, bukan jenis hewan lainnya.
Wastoyo mengungkapkan, berdasarkan penuturan para winasih (orang-orang yang mampu membaca masa depan), Pantai Siung akan rejomulyo atau kembali kejayaannya dalam waktu yang tak lama lagi. Semakin banyaknya pengunjung dan popularitasnya sebagai arena panjat tebing menjadi salah satu pertanda bahwa pantai ini sedang menuju kejayaan. Kunjungan wisatawan, termasuk anda, tentu akan semakin mempercepat teraihnya kejayaan itu.

Rabu, 27 Juli 2011

Kualifikasi Panjat Tebing Pra-PON

Putra-Putri Jatim Berjaya di Nomor Lead

image Semarang, CyberNews. Tim putra-putri Jatim berjaya di nomor lead perorangan Kejurnas Panjat Tebing yang berlangsung di wall panjat FPTI Jateng, Jatidiri, Jumat (17/6). Di kelompok putra, pemanjat Jatim Bekti Setyawan tampil sebagai yang terbaik dengan nilai 47.
Di tempat kedua, diraih atlet panjat Jabar, Amri yang membukukan poin 40. Amri unggul tipis atas pemanjat Jateng Marsudin yang mengantongi nilai 39. Adapun dua pemanjat Jateng lainnya Yusak Yulius dan Temi Telliasa hanya berada di peringkat delapan dan sembilan dengan nilai 25 dan 22.
Sukses Jatim di kelompok putra juga diikuti kelompok putri. Pemanjat senior Wilda Baco Ahmad sukses meraih prestasi tertinggi sekaligus menduetkan gelar juara di nomor lead perorangan. Medali perak diraih pemanjat Bali, Nadia Putri Virgitia sedangkan perunggu diraih atlet panjat DKI, Saripah.
Adapun dua finalis lead putri perorangan asal Jateng yakni Harini dan Sudarti hanya mampu menempati peringkat delapan. Sementara di nomor speed record perorangan putra, atlet Jateng Toni Mamiri sukses meraih medali emas. Toni unggul atas dua pemanjat Jatim Aan Aviansa dan Abudzar Yuliyanto yang meraih perak dan perunggu.
Di speed record putri, DKI akhirnya mampu meraih medali emas pertamanya melalui pemanjat Tita Supita. Sementara Santi Wellyanti dari Jateng harus puas meraih perak dan perunggu diraih Tri Adianti dari Sulsel.
Dari enam nomor yang rampung digelar, Jateng masih memimpin perolehan medali sementara dengan tiga emas, satu perak dan satu perunggu. Jatim menguntit di posisi kedua dengan dua emas, satu perak dan dua perunggu. Di tempat ketiga ditempati kontingen DKI dengan satu emas.
(Dian Chandra/CN26)
Kejurnas Panjat Tebing 2010

Perkuat Jateng, Atlet Solo Lolos Penyisihan

image Solo, CyberNews. Dua dari empat alet senior Solo memperkuat Jateng lolos dari babak penyisihan pada Kejurnas Panjat Tebing 2010 di kompleks Pasar Festival Jakarta. Keduanya adalah Marsudin yang menembus semifinal lead perorangan umum putra dan Indah Wati lolos penyisihan boulder umum putri.
Dua lainnya, Eko Prihantoro masih menjalani partai penyisihan nomor speed umum putra dan Bimo Prakoso belum mendapat giliran tampil, Senin (13/12). "Persaingan cukup ketat. Mudah-mudahan para atlet Solo itu mampu menembus final dan meraih medali," kata Ketua Harian Pengkot Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Solo, Heri ''Aan'' Kurniawan.
Empat atlet Kota Bengawan tersebut tergabung dalam tim Jateng yang total berawak 20 orang, terdiri atas 16 atlet inti dan empat atlet cadangan. Atlet inti terbagi atas delapan pemanjat tebing putra dan delapan putri.
Mereka bersaing dengan para atlet andal dari berbagai provinsi lain di Tanah Air, pada kejurnas yang digelar mulai Sabtu (11/12) hingga 20 Desember mendatang itu. Selain kelompok senior, ajang resmi nasional tersebut juga memperlombakan kategori yunior yang digelar pada 17-20 Desember.
Aan yang juga menjadi manajer tim yunior mengungkapkan, Jateng akan menurunkan 48 atlet, 24 putra dan 24 putri di kelompok itu. Mereka akan bertarung di nomor lead dan speed pada kelas spider kid A, B dan C, youth A dan B, serta yunior.
Tercatat ada tiga atlet Solo yang akan bersaing, yakni Alfian MF pada nomor lead spider kid A putra, serta Sutrisno dan Dimas Satrio pada lead yunior putra.
"Alfian punya peluang cukup besar merebut medali. Tapi dia bakal menghadapi persaingan ketat dengan atlet-atlet Jatim dan Kaltim yang memiliki banyak atlet potensial di spider kid," ungkap Aan.
(Setyo Wiyono/CN26)
Kejuaraan Terbuka Panjat Tebing

Jateng Raih Dua Emas dan Dua Perak

image Solo, CyberNews. Dua medali emas dan dua perak diraih para atlet Jateng dalam Kejuaraan Panjat Dinding Buatan Bramatala tingkat nasional di Bandung, 11-14 April lalu.
Medali emas digenggam atlet pelatda jangka panjang (PJP) Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jateng asal Jepara, Solikhin dan Firma Kartika Dewi (Batang/nonpelatda) dari nomor lead yunior (usia maksimal 19 tahun/U-19) putra dan putri.
Sementara medali perak direbut atlet PJP, M Marsudin (Solo) dan Harini (Sragen) di nomor lead umum putra dan putri. Medali emas kelompok putra diraih Harun Ramadan (pelatda Jabar), sedangkan emas putri digenggam Wilda (pelatnas/pelatda Jatim).
Pelatda Jateng menurunkan enam atletnya untuk bertarung di ajang tersebut. Menurut salah seorang pelatih PJP Krisna Rano, hanya Temi Teli Lasa (Pemalang) yang tidak masuk babak final. "Dua atlet lain, Teguh Imam (Blora) menempati peringkat lima lead umum putra dan Sudarti (Kudus) di peringkat delapan lead umum putri," ungkap Rano.
Pelatih kepala Triyanto Budi Santoso menambahkan, para atlet PJP Jateng memang memanfaatkan event tersebut sebagai ajang uji coba sebelum menghadapi Pra-PON, Juni mendatang. Menurutnya, para penghuni pelatda itu memang hanya diturunkan di nomor lead.
Kendati demikian, Harini dan Sudarti menjajal turun di nomor speed umum putri. "Nomor itu tak bisa rampung hingga final karena hujan terus. Hasil terakhir pada babak kualifikasi, Harini bisa menempati peringkat lima dan Sudarti urutan tujuh," ungkapnya.
(Setyo Wiyono/CN26)
Penuhi Kuota 16 Atlet

Enam Pemanjat Genggam Tiket PON

image Solo, CyberNews. Enam pemanjat tebing dari eks-Karesidenan Surakarta telah menggenggam tiket menuju PON XVIII/2012 di Riau. Mereka adalah atlet Solo, yakni Indah Wati, M Marsudin dan Dimas Satriyo, atlet Karanganyar Muwardi dan Susanti Arfiah, serta atlet Sragen Harini.
Bersama sepuluh atlet dari berbagai daerah lainnya, mereka akan membela tim Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jateng. "Enam atlet tersebut termasuk dalam 16 atlet yang lolos pada Pra-PON Panjat Tebing di Semarang, 16-22 Juni lalu,'' kata pelatih kepala Pelatda Jangka Panjang (PJP) FPTI Jateng, Triyanto Budi Santoso, Kamis (23/6).
Guru SMPN 3 Jenar Sragen itu mengungkapkan, sebenarnya ada 25 atlet Jateng yang lolos prakualifikasi yang digelar di GOR Jatidiri tersebut. Namun karena kuota maksimal setiap kontingen hanya 16 atlet (delapan putra dan delapan putri), maka sembilan atlet lain termasuk beberapa dari Kota Bengawan yang peringkatnya lebih rendah terpaksa tidak masuk tim inti.
"Kalau enam atlet tersebut masuk karena peringkatnya tinggi dalam Pra-PON lalu. Sebagian besar rata-rata peringkat 4-5 pada masing-masing nomor," tambahnya.
Para atlet itu kini dibebaskan sementara dari arena PJP di GOR Jatidiri. Beberapa di antara mereka akan mengikuti sederet lomba panjat tebing seperti Metala di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mulai Jumat (24/6) dan kejuaraan di Jakarta, awal Juli nanti. "Mereka dijadwalkan kembali lagi bergabung di Pelatda pada 11 Juli mendatang," tutur Triyanto.
(Setyo Wiyono/CN26)